Page 1 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 Plastik dan Sampah : Pantauan bulan Maret 2023 Oleh: Riza V. Tjahjad i Silahkan cari juga di https:// Pdfhost.io laporan yang sama sejak April lalu Indonesia, dapat mengangkat ide upaya memperbesar disain kemasan yang lebih besar dari yang biasanya dijual produsen makanan maupun produk dalam Negosiasi INC - 2 Plastics Treaty di Paris pada Mei mendatang UNEP dan UNESCO gencar sebar info hari Zero Waste Day 2023 sebagai upaya kendalikan polusi plastik pada 29 dan 30 Maret 2023. Ini kesempatan saya untuk promo 4R yaitu plastik tipe biodegradable , ketika muncul R ini , R itu dan , R itu - itu sebagai upaya kenda likan sampah plastik. Guru Besar Bidang Keamanan Pangan & Gizi di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor menyatakan pelabelan kemasan air minum ‘Berpotensi Mengandung BPA” belum perlu dilakukan. Yang perlu dilakukan adalah analisi s resiko paparan BPA dari berbagai sumber paparan. Solusi stop b aju bekas impor... Stok sampah itu dijualhabis, setelah itu tidak boleh ada lagi penjualan sampah tersebut. Solusi berikutnya adalah Kemenkop UMKM menjembatani antara usaha para pedagang sampah baju impor itu dengan menjual produk dalam neg ri. Dengan sampah plasti k bisa menjadi jarring ikan ... logika artis gambar Page 2 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jabon Sidoarjo, Jawa Timur pada Senin (6/2/2023). tirto.id/Riyan Setiawan. Reporter: Riyan Setiawan, tirto.id – 15 Feb 2023 06:00 WIB Dibaca Normal 9 menit Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mengkritik mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar seperti RDF. tirto.id – Pemandangan tumpukan sampah yang menggunung terlihat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur. Kawanan burung kuntul pu tih ( babulcus ibis ) tampak terbang di area sekitar TPA tersebut. Mereka mencari makan di atas tumpukan sampah yang menjulang tinggi itu. Sekitar pukul 4 sore, saya coba mendekati. Aroma tak sedap cukup menyengat. Terlihat sampah sisa makanan, plastik, kertas, batang pohon serta dedaunan, dan sampah jenis lainnya. TPA Jabon menampung sekitar ratusan ton sampah masuk dari Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur setiap harinya di tempat tersebut. Mulai dari rumah tangga, mal, hingga rumah makan. "Kami mungkin per harinya [dapat menampung] 500 ton lah. Karena masuk dari satu Kabupaten Sidoarjo," kata peralatan teknis dan mesin di TPA Jabon, Opi Wisnu B roto di lokasi, Senin (6/2/2023). Biasanya para pemulung yang membantu untuk mengurangi jumlah sampah. Mereka mencari sampah yang masih memiliki nilai ekonomis, seperti gelas atau botol plastik, kardus, dan sejenisnya. Sampah yang terdiri dari sisa mak anan hingga plastik itu pun masuk ke dalam mesin sortir untuk diklasifikasikan sesuai dengan jenisnya. Setelah Page 3 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 itu, residunya akan diolah dengan teknologi Refuse - derived fuel (RDF) Plants Terdapat tiga jenis sampah yang dihasilkan dari RDF tersebut, yakni serbuk halus menyerupai batu bara, flav, dan briket. Dari hasil tersebut nantinya bisa digunakan sebagai pupuk hingga bahan bakar campuran batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PL TU). Produk ini biasa menjadi permintaan PLTU, termasuk PLTU Paiton dan PLTU Tanjung Awar - Awar. “Kami mengikuti campuran di PLTU, kita menyesuaikan [permintaan PLTU]. Kenapa? Karena saat dilakukan proses pencampuran, kan, bisa homogen. Kami nggak bisa le bih besar atau nggak," ucapnya. Saat ini hasil RDF tersebut melalui proses uji coba ke beberapa PLTU di Jawa Timur, seperti PLTU Paiton dan PLTU Tanjung Awar - Awar. Uji coba ini bertujuan mengetahui kadar kandungan briket apakah telah memenuhi standar bah an bakar pengganti batu bara oleh PLTU. Lebih lanjut, petugas TPA Jabon bernama Afif mengatakan limbah berbentuk air lindi yang dihasilkan dari sampah pun tidak dibuang begitu saja. Air lindi itu mereka tampung di sebuah selokan yang mengalir ke Leachate Treatment Plant (LTP). Ia menjelaskan air lindi tersebut diproses melalui tiga tahapan agar limbah tersebut dapat dinetralisir dan ketika dibuang ke sungai tidak melakukan pencemaran terhadap biota. “Inti dari semua ini agar tidak mencemari lingkungan , agar air lindi bisa dibuang ke sungai memenuhi baku mutu," klaimnya. Baca juga: Bahan Bakar Sampah Plastik: Bahaya untuk Kesehatan & Lingkungan Pilah Sampah & Daur Ulang: Solusi Panjang Sampah Plastik di RI RDF Jadi Solusi Semu Aliansi Zero Waste I ndonesia (AZWI) mengkritik mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar seperti RDF. Anggota AZWI, Hermawan Some juga ikut menginvestigasi saat melakukan peninjauan ke TPA Jabon Sidoarjo, Jawa Timur. Hermawan yang juga Founder Nol Sampah menilai, pengolahan sampah tersebut merupakan solusi semu dan palsu terkait pengolahan sampah perkotaan. Ia mengatakan meski cara tersebut dapat mengurangi jumlah sampah plastik yang menumpuk, "namun memiliki dampak negatif pada lingkungan sehingga disebut sebagai false so lution managemen t atau solusi palsu dan semu pengolahan sampah perkotaan," kata Hermawan di kawasan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Selasa (7/2/2023). Page 4 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 AZWI merupakan organisasi yang terdiri dari YPBB, GIDKP, Nexus3 Foundation, PPLH Bali, ECOTON, ICEL, Nol Sampah Surabaya, Greenpeace Indonesia, Gita Pertiwi, dan WALHI. AZWI mengkampanyekan implementasi konsep Zero Waste yang benar dalam rangka pengarusuta maan melalui berbagai kegiatan, program, dan inisiatif Zero Waste yang sudah ada untuk diterapkan di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia dengan mempertimbangkan hirarki pengelolaan sampah, siklus hidup material, dan ekonomi sirkuler. Ia mengatakan RDF juga bisa disebut sebagai pengolahan sampah secara termal. Dia menuturkan pengolahan sampah secara termal harus merujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 70 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Emisi Usaha dan Ke giatan Pengolahan Sampah Secara Termal. Pengolahan sampah secara termal hanya dapat dilakukan terhadap sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga yang tidak mengandung B3, Limbah B3, kaca, Poli Vinyl Clorida (PVC), dan aluminium foil. “Saat ini sampah kita belum terpilah. Siapa yang bisa menjamin B3, vinyl, PVC, kaca dan aluminium foil ikut dibakar tidak menimbulkan racun?” kata pria yang akrab disapa Wawan itu. Berdasarkan Permen LHK 70/2016, pengolahan sampah secara termal memiliki baku mutu emisi usaha dengan parameter: 1. Total Partikulat 120 mg/Nm3; 2. Sulfur Dioksida (SO2) 210 mg/Nm3; 3. Oksida Nitrogen (NOx) 470 mg/Nm3; 4. Hidrogen Klorida (HCl) 10 mg/Nm3; 5. Merkuri (Hg) 3 mg/Nm3; 6. Karbon Monoksida (CO) 625 mg/Nm3; 7. Hidrogen Fluorida (HF) 2 mg/Nm3; 8. Dioksin & Furan 0,1 ng/Nm3. Wawan mengatakan volume gas diukur dalam keadaan standar 250 celcius dan tekanan 1 atmosfer. Semua parameter dikoreksi dengan Page 5 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 Oksigen (O2) sebesar 11%. Pengu kuran dioksin dan furan dilakukan setiap lima tahun sekali. “Pertanyaannya, apakah mereka sudah melakukan uji coba itu secara legal maupun ilegal? Harus dibuka proses pengambilan data hingga hasilnya," tegas dia. Baca juga: Gangguan Ginjal Muncul Lagi: Tak Bisa KLB, Didesak Bikin TGIPF Menyoal Wacana Darurat Sipil di Papua setelah Insiden Susi Air Kemudian KLHK juga membuat Peraturan Menteri (Permen) KHLK 26/2020 Tentang Penanganan Abu Dasar dan Abu Terbang Hasil Pengolahan Sampah Secara Termal. Berdasarkan pasal 4 Permen KLHK 26/2020, penanganan abu dasar harus dilakukan dengan pemanfaatan dan pemrosesan hasil akhir. Bisa digunakan sebagai bahan dasar jalan, bahan baku semen, dan pemanfaatan lainnya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknol ogi. Biasanya, plastik yang dibakar akan menghasilkan abu sebesar 10 - 20%. Sementara itu, di Surabaya ini pembangkit listriknya adalah 1.000 ton per hari. Artinya, akan ada sekitar 100 - 200 ton abu setiap hari. “Di kemanakan? Kita gak pernah dapat inform asi. Saya cari informasi juga masih nggak tahu. Pemanfaatan harus dilakukan hati - hati," ujarnya. Wawan mengatakan saat ini Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) terdapat di 12 kota di Indonesia, terhitung sejak 2019 - 2022 guna menyelesaikan persoalan s ampah yang menumpuk. PLTSa itu tersebar di Palembang, Jakarta, Bekasi, Tanggerang, Tanggerang Selatan, Bandung, Solo, Semarang, Surabaya, Denpasar, Manado, dan Makassar. Sebelum di 12 kota, awalnya terdapat 10 PLTSa. Ia menceritakan sebelumnya pernah men ggugat 10 PLTSa ke Kemenkumham. "Setahun kami nggak bisa kerja. Akhirnya menang. Begitu menang, sebulan berikutnya keluar Permen [Peraturan Menteri] baru dengan jumlah kota yang tadinya 10 jadi 12," ucapnya. Ia menjelaskan PLTSa Surabaya bisa menghasil kan 1.000 ton dalam sehari. Biaya untuk menghasilkan listrik per ton sebesar Rp500.000. "Berarti Rp500 juta yang harus dikeluarkan untuk bikin listrik dari sampah," ucapnya. Ia mengatakan pemerintah pusat memberikan subsidi kepada pemerintah daerah sebes ar Rp500.000 per ton sampah yang dikumpulkan oleh PLTSa. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 15 Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 35 Tahun 2018. Page 6 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 “Jadi ada dana lebih besar yang untuk dikasih ke Surabaya kemarin, kenapa di Surabaya bisa jalan," jel as dia. Baca juga: Komitmen Semu Energi Terbarukan di RUU EBT: Masih Bahas Batu Bara "Kalau Perlu Subsidi LPG atau BBM Alihkan ke Energi Terbarukan" Ia mengatakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga telah melakukan kajian kelistrikan mengenai penge lolaan sampah untuk energi listrik terbarukan. Berdasarkan kajian KPK, terjadi sejumlah permasalahan atas hal tersebut. Tidak ada jaminan kelanjutan dan besaran Biaya Layanan Pengolahan Sampah (BLPS) setiap tahunnya. Bantuan APBN (BLPS) melalui mekanisme dana alokasi khusus (DAK) Non Fisik tidak pasti diterima oleh daerah setiap tahun, bergantung kebijakan pusat; jumlah yang ditetapkan maksimal 49% dari total tipping fee ; dan 2019 hanya dianggarkan sebesar Rp26,9 M Kemudian tarif beli listrik memberatkan PLN. Berdasarkan perhitungan sementara dari PLN dengan tarif yang tercantum dalam Perpres 35 Tahun 2018, diproyeksikan selisih harga yang akan ditanggung oleh PLN mencapai Rp1,6 triliun per tahun untuk total 244,5 Mega Watt (MW). Tidak ada kebutuhan supply list rik baru di Jawa - Sumatera, reserve margin sudah mencapai 30%. Lalu, KPK memberikan kesimpulan dan rekomendasi. Perpres 35/2018 tidak cukup operasional dan memiliki banyak kelemahan: Pertama , take or pay 3 pihak hanya menguntungkan swasta, sedangkan suppl y sampah dan listrik belum pasti tersedia dan risiko operasional dibebankan ke pemda dan PLN. Kedua, kekuatan anggaran pemda belum ada dan anggaran dalam APBN belum tentu tersedia, sehingga selisih tarif listrik PLTSa dibebankan ke PLN. Ketiga, belum ada k asus teknologi PLTSa yang sudah terbukti terimplementasi, sebaiknya dibuka opsi teknologi waste to energy "KPK mengeluarkan peringatan bahwa PLTS berpotensi kerugian. Kenapa? Karena pasti akan mahal," tuturnya. Selanjutnya, ia menjelaskan RDF terdapat dua model: briket dan serbuk yang mirip batu bara. Model briket memiliki kandungan 95% organik dan 5% plastik. Perlu ditambah plastik agar kalorinya tidak rendah. "Kalau lebih dari 5%, maka akan lengket di tungku pembakar batu bara. Jadi akan ada biaya khusus yang dikeluarkan untuk membersihkan plastik - plastik yang lengket," ucapnya. Ia juga mengatakan sampah juga digunakan sebagai bahan baku campuran metode co - fi ring . Dicampur dengan limbah kayu atau pellet Page 7 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 Sampah dicampurkan 1% hingga 5%. Program co - firing dilakukan PLN di 54 lokasi PLTU di Indonesia hingga 2024. Sampah sebagai bahan baku pellet saat ini memiliki volume sebesar 20.925 ton per hari yang terkons entrasi di 15 tempat pengelolaan sampah kota, di antaranya DKI Jakarta (7.000 ton/hari), Kota Bekasi (1.500 ton/hari), Kabupaten Bekasi (450 ton/hari), Batam (760 ton/hari), Semarang (950 ton/hari) hingga Surabaya (1.700 ton/hari). Nilai kalori pengelola an sampah yang dihasilkan sekitar 2.900 - 3.400 Cal/grm. Baca juga: Cerita Jokowi & Tantangan Media dalam Mengawal Pemilu 2024 Take Down Penjualan di Medsos, Efektif Selesaikan Masalah Migor? Pada waktu yang sama, Anggota AZWI, Eka Chlara Budiarti meng atakan, RDF memang merupakan salah satu cara untuk menangani sampah di Indonesia dan alternatif pengganti batu bara. Namun, kata dia, ketika RDF yang memiliki kandungan plastik menjadi bahan bakar, zat - zatnya terlepas ke udara. Hal itu menjadi emisi beracu n dan bottom ash yang akan menciptakan dan menyebarkan bentuk baru limbah beracun di masyarakat. Ia juga mencontohkan pabrik tahu sebuah pabrik bernama Dua Bersaudara - DY. Pabrik itu berada di Desa Klagen Tropodo, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur yang menggu nakan bahan sampah plastik sebagai bahan bakarnya. Citizen Science Coordinator dari ECOTON ini menyatakan, sampah plastik yang dibakar itu tidak akan hilang. Melainkan abu pembakarannya menjadi partikel - partikel kecil atau mikroplastik. Zat yang terkandung dalam mikroplastik itu akan berdampak terhadap pada perubahan iklim, kesehatan, dan lingkungan. Ia menjelaskan pembakaran sampah plastik menghasilkan emisi karbon yang dapat mempengaruhi perubahan iklim. Karena emisi gas pembakaran ters ebut akan membentuk selubung di atmosfer sehingga energi panas yang seharusnya dikeluarkan, justru terperangkap, dan kembali ke bumi. Lantaran sinar matahari memiliki dua sifat, yakni dipantulkan dan diteruskan ke atmosfer sebagai energi di bumi. "Makany a kenapa akhirnya udara kita di Surabaya itu panas sekali dan gelombang panas itu di Indonesia cukup tinggi, hal ini karena senyawa yang dilepaskan dia akan membentuk selubung di atmosfer," kata Chlara. Ia mengatakan pemerintah memang memberikan subsidi atau hibah untuk mengelola sampah secara termal atau dengan RDF. Berdasarkan Pasal 15 Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 35 Tahun 2018, pemerintah memberikan subsidi Rp500.000 per ton sampah per harinya. Page 8 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 Berdasarkan laporan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) tahun 2021 yang ia kutip, jika biaya produksi RDF dilakukan sesuai metode SBI, tanpa hibah, dan 100% dibiayai dengan pinjaman pemda (8% per tahun) dengan harga per ton. Biaya proses produksi Rp210.800; penan ggulangan limbah Rp71.202; cicilan belanja modal Rp221.500; beban bunga Rp106.727. Total harga produksi Rp610.229 per ton sampah. Sementara itu, total biaya produksi RDF Rp1.453.800 per ton sampah atau dapat menghasilkan 0,42 ton RDF. "Apabila harga jual RDF tidak mampu menutup biaya produksi, sudah pasti akan terjadi kerugian. Biaya produksi yang tidak dapat ditutup dari penjualan RDF, perlu ditutup dengan BPLS," tuturnya. Baca juga: Upaya Parpol Non - Parleman Kerek Elektabilitas dari Efek Ekor Jas Peny anderaan Pilot Susi Air Bikin Konflik Papua Makin Meruncing Jumlah Sampah & Bagaimana Seharusnya Mengolahnya? Berdasarkan catatan KLHK yang dihimpun AZWI, Wawan menjelaskan, jumlah timbunan sampah secara nasional sebanyak 184.000 ton per hari (0,8 kg per kapita). Sumber sampah berasal dari rumah tangga 48% dan pasar tradisional 24%. Jenis sampah yang paling banyak yaitu 60% organik layak kompos, 14% plastik, dan 9% kertas. Kemudian produksi sampah plastik Indonesia sebanyak 5,4 juta ton per tahun. Jenis barang yang sering diterima menggunakan kantong plastik: makanan dan minuman; alat mandi dan kosmetik; pakaian; barang rumah tangga; dan buku. Berdasarkan data KLHK pada 2018, komposisi sampah yang dibuang dari rumah tangga: 39,68% sisa makanan, 13,99% kayu/ranting, plastik 17,01%, kertas/karton 12,01%. Rumah tangga penyumbang terbesar, yaitu 62%, pasar tradisional 13%, pusat perniagaan 7%, perkantoran 5%, kawasan 4%, fasilitas publik 3%, dan sisanya 6% berasal dari lainnya. Ia memperkirakan terdapat 300 lembar kantong plastik dalam satu gerai perhari. "Jika terdapat 100 gerai dikalikan satu tahun atau 365 hari, jumlahnya sebanyak 10,95 juta lembar sampah kantong plastik," terangnya. Berdasarkan data riset Sustainable Waste Indonesia (SWI), sebanyak 2 4% sampah di Indonesia tidak terkelola. Hanya 7% yang didaur ulang, dan 69% berakhir di TPA. Sementara berdasarkan hasil riset dari Peneliti Jenna Jambeck pada 2015 mengatakan, tidak ada satu negara pun yang dapat mendaur ulang sampah plastik 100%. Indones ia daur ulang plastik kurang dari 11% dan botol Polyethylene Terephthalate (PET) 50%. Ia mengatakan banyak sampah yang tidak terkelola oleh pemerintah. Tumpukan sampah pun sampai memadati sungai hingga lautan. Misalnya Page 9 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 saja Sungai Citarum, Jawa Barat yan g dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia pada 2014. "Fakta masih banyak yang membuang sampah sembarangan, terutama di tepi saluran air atau bahkan di sungai," ujarnya. Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014 - 2019, Susi Pudjiastuti pernah menye butkan, Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut. Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 6 4 juta ton/tahun, di mana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. 80% sampah di laut berasal dari daratan, 70% di antarnya adalah plastik. Selain itu, Indonesia juga sebagai negara pembuang makanan terbanyak di dunia. Studi T he Economist Intelligence Unit 1 pada 2016 menyebut, Indonesia menghasilkan sampah makanan sebanyak 300 kg per orang per tahun. Angka ini mengungguli Amerika Serikat yang membuang 277 kilogram dan hanya kalah dari Saudi Arabia sebanyak 427 kg/tahun. Data B appenas 2021, sampah makanan di Indonesia adalah 115 - 184 kg per kapita per tahun. Baca juga: Pesan Politik Pertemuan PKB & Golkar setelah Diajak Gabung PKS Manuver Partai Buruh yang Ogah Koalisi, tapi Dukung Kandidat Wawan menjelaskan terdapat beberapa cara dalam mengurangi sampai. Misalnya cara mengurangi sampah plastik yaitu menggunakan dan memanfaatkan tas kantong plastik belanja dari kain. Kemudian memanfaatkan barang berbahan plastik bekas untuk dibuat aneka baran g kerajinan atau digunakan dalam bentuk lain. Lalu mengembangkan produk plastik yang gawat sehingga penggunaannya dapat berlangsung lebih lama. “Mengembangkan teknologi atau inovasi bahan pengganti plastik atau mendaur ulang plastik," tuturnya. Wawan pun meminta kepada pemerintah agar melakukan pengelolaan sampah di perkotaan dengan cara 3R: reduce (mengurangi), reuse (pakai ulang), recycle (daur ulang). Hal yang menjadi kunci utama pengelolaan sampah dengan cara memisahkan dipisahkan. Pengolahan sampah organik dengan cara ditanam ke dalam tanah. Pengelolaan tanah secara organik dengan cara: tanah dilubangi, diperkuat tebingnya, diurug tanahnya, dan diberi penutup. Dibuat empat sampai lima lubang dipakai bergantian. Kemudian bisa dibuat lorong serang dapur (Loseda), komposter semi Aeorob, dan saluran resapan biopori. Resapan air hujan dan pengolahan sampah. Satu lubang di daerah curah hujan 50 mm/jam, maka laju resapan 180/jam, maka untuk lahan 100 m2 butuh (50 X 100)/180 = 28 lubang. Page 10 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 “Sampah yang ditampung lubang diameter 10cm dalam 100 cm adalah 7,8 liter atau sampah 2 - 3 hari," ujarnya. “Sampah digunakan untuk komposting, seperti diolah pupuk organik kom pos," imbuhnya. Pengolahan dengan dengan cacing atau vermicompost . Cacing bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan atau untuk bahan baku obat sampah organik yang diolah dengan cacing. Selain itu, bisa juga digunakan kompos. Nilai ekonomi lebih tinggi, per kilo gramnya bisa mencapai Rp50.000. Kemudian bisa menggunakan Inovasi Pengolahan Sampah Organik Maggot Lalat BSF ( Black Soldier Fly ). Pengolahan dengan dengan Maggot (belatung) lalat BSF. Hasil akhir Maggot dan kompos. Maggot bisa dimanfaatkan untuk pakan ik an atau ternak. Pengurangan sampah organik juga bisa dilakukan dengan cara melakukan gerakan makan secukupnya dan jangan sisakan makanan. Ia menjelaskan di Banjarmasin, kebijakan larangan kantong plastik untuk toko modern mengurangi sampah plastik hingga 5 5%, hemat Rp563 juta/bulannya. Lalu, dampak kebijakan diet plastik sekali pakai di Bogor yang membuat sampah plastk berkurang 41 ton. Selanjutnya terdapat Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sek ali Pakai. Atas kebijakan tersebut penggunaan keresek turun 51 - 57%; styrofoam turun 77 - 81%; dan sedotan turun 66 - 70%. Ada juga Pergub DKI 142/2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan. Regulasi ini dapat membuat 82% pengurangan d i tiga subyek hukum: pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat. Lalu, 42% pengurangan kantong plastik sekali pakai yang terjadi di rumah tangga. “Jadi pengolahan sampah harus dari hulu dulu, lalu hilir penanganannya. Perlu juga kebijakan pemerint ah untuk mendukung pengolahan sampah,” kata dia. Baca juga: Ketika Koalisi Perubahan Lobi Golkar Bergabung, Apa Spesialnya? Satu Abad NU & Penegasan PBNU agar Tak Terseret Politik Praktis Sri Mulyani di antara Bursa Gubernur BI & Opsi Reshuffle Kabinet B aca juga artikel terkait SAMPAH atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan (tirto.id - Sosial Budaya) Reporter: Riyan Setiawan Penulis: Riyan Setiawan Editor: Abdul Aziz Baca selengkapnya di artikel "Saat Teknologi RDF jadi Solusi Semu Penanganan Sampah Perkotaan", https://tirto.id/gCrv Page 11 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 3 Maret 2023 \ Page 12 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 3 Maret 2023 Cuitan saya di Twitter Tanggapan (like) dari Plastic Impact Campaign My tweet Page 13 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 Tanggapan (like) dari Plastic Impact Campaign S3 pemulung VIVA.CO.ID 2,78 jt subscriber Subscribe 1 00 111.799 x ditonton 2 Ma r 2023 VIVA - Sosok Pramoedya Ananta Toer begitu populer di dunia sastra Indonesia. Karya - karyanya mendunia dan disegani banyak orang. Tak ketinggalan juga dengan sang Adik, Soesilo Ananta Toer yang telah menelurkan banyak karya pula. Beliau merupakan mah asiswa penerima beasiswa pendidikan di Institute Perekonomian Rakyat Plekhanov Moskow, Uni Soviet dan meraih gelar Ph.D hanya dalam 1,5 tahun. Seperti yang diketahui pula bahwa Pak Soes lebih memilih berprofesi sebagai pemulung. Menurutnya memulung adalah kenikmatan abadi. Namun, kenikmatan seperti apa yang dimaksud? Mengapa pula ia tidak Page 14 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 memanfaatkan keilmuannya? Dan bagaimana hubungan kakak - beradik Ananta Toer ini? Baca berita terbaru, terkini dan terpopuler disini ht tps://www.viva.co.id/ 3 Maret 2023 Kompas.com - 04/03/2023, 14:12 WIB 2 Lihat Page 15 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 Foto Ilustrasi kompos, ilustrasi membuat kompos dari sampa h or rganik(Shutterstock/Jerome.Romme) Penulis Albertus Adit | Editor Albertus Adit KOMPAS.com - Biasanya, lulus dari Jurusan Hubungan Internasional (HI) memilih untuk bekerja sebagai diplomat. Tetapi tidak bagi alumnus yang satu ini. M. Hafizh Putranto, alumnus Program Studi HI Universitas B rawijaya (UB) angkatan 2018 justru punya passion di bidang wirausaha. Hingga akhirnya dia menciptakan usaha dari sampah organik. Hal itu karena Hafizh melihat dari keadaan sekitar ada masalah sampah organik. Sampah itu tentu kian banyak dan dapat menggan ggu keseimbangan lingkungan, sampai kemudian dia membuat atau menciptakan ngalamaggot. Baca juga: 9 Prodi UB Punya Daya Tampung 100 Lebih di SNBP 2023 Menurut dia, ada tiga poin utama dalam usaha ini yakni: 1. Pengelolaan sampah organik secara tepat me njadi pakan ternak berprotein tinggi dan sisanya menjadi pupuk. 2. Budidaya pengembangan produk dalam Maggot BSF. 3. Pengembangan produk dengan KasGot (Bekas Maggot) sebagai produk organik. Namun, ia menyatakan meski lulusan HI yang banyak menjadi duta b esar ataupun diplomat, Hafizh terjun dalam usaha wirausaha tetap membuatnya dekat dengan HI. "Kalau di HI membahas decision making dan negosiasi. Ilmunya itu sebenarnya kepakai banget waktu berusaha," ujarnya dikutip dari laman UB, Rabu (1/3/2023). "Bedanya cuma di scope aja, kalau di HI lebih ke negara sedangkan waktu usaha lebih ke usaha kita sendiri. Contoh waktu negosiasi sama peternak atau mitra usahaku, jadi kepakai," jelas Hafizh. Page 16 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 Tentu, dia tetap mengalami tantangan. Hanya saja Hafizh punya prinsip usaha yang bi sa sampai besar didapatkan dari bagaimana bisa manajemen waktu. Ketika waktu kerja maka yang dilakukan adalah bekerja dan sebaliknya ketika jam istirahat atau libur digunakan untuk istirahat atau libur. Ternyata, Hafizh dan timnya juga menerapkan prinsip One Man’s Trash Is Another Man’s Treasure. Baca juga: Mahasiswa UMM Inovasi Knalpot Ramah Lingkungan Yakni apa yang kamu buang bisa jadi itu sangat berharga bagi orang lain. Sampah organik yang kamu pandang sebelah mata bisa jadi berharga secara ekono mis. Tag diplomat universitas brawijaya UB sampah organik hi jurusan hubungan internasional Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lulus Jurusan HI, Hafizh Justru Ciptakan Usaha dari Sampah Organik", Klik untuk baca: https://edukasi.kompas.com/read/2023/03/04/141245871/lulus - jurusan - hi - hafizh - justru - ciptakan - usaha - dari - sampah - organik?page=all Penulis : Albertus Adit Editor : Albertus Adit Truk melintas di antara gunungan sampah TPA Jatibarang. tirto.id/Baihaqi Kontributor: Baihaqi Annizar, tirto.id - 5 Mar 2023 10:00 WIB Dibaca Normal 5 menit Pemindahan atau perluasan area TPA sejatinya tidak menyelesaikan masalah, melainkan hanya menunda. tirto.id - Truk pengangkut sampah melintas silih berganti, menerjang gerimis pada Kamis siang, 2 Maret 2023. Belasan kendaraan tampak terhenti di jalur yang sama, membentuk antrean, menunggu giliran untuk menurunkan muatan. Di seberang jalan terlihat gunungan sampah. Saya coba mendekat. Sampah plastik, botol bekas, dan sampah pakaian cukup mendominasi. Sebagian sampah sudah berbentuk gumpalan menyerupai tana h -- Page 17 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 menandakan bukan sampah baru. Tumpukan sampah itu hanya sebagian kecil dari yang ada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang, Jawa Tengah. TPA seluas 46 hektare ini terdiri dari 27,64 hektare untuk area buang, 4,6 hektare infrastruktur, 13,8 hektare kolam lindi, sabuk hijau, dan lahan cover. Kepala Unit Pelaksanaa Teknis Daerah (UPTD) TPA Jatibarang, Wahyu Heryawan mengatakan, sampah yang mas uk ke TPA Jatibarang pada saat pandemi Covid - 19 sempat mengalami penurunan, per hari sekitar 600 ton. Namun, saat ini sudah kembali normal. “Sekarang rata - rata per hari hampir 900 ton, kadang bisa lebih dari 900 ton. Dulu sebelum pandemi justru (sampah) mencapai 1.000 ton per hari," ujar Wahyu kepada kontributor Tirto. Dari enam belas kecamatan di Kota Semarang, kata Wahyu, Kecamatan Semarang Tengah, Semarang Barat, dan Pedurungan paling banyak menyumbang sampah. Sebab, kecamatan tersebut merupakan daer ah padat penduduk. Sudah Lama Overload TPA Jatibarang yang telah beroperasi sejak Maret 1992 kini kondisinya kritis. TPA yang berlokasi di Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen tersebut idealnya sudah tidak mampu lagi menampung sampah warga Kota Semarang. Wahyu mengakui bahwa daya tampung kolam sampah TPA Jatibarang sudah overload “Jika mengikuti dokumen master plan TPA Jatibarang, seharusnya 2021 sudah ditutup. Nyatanya kondisnya ya memang sudah penuh,” kata dia. Selama ini tidak ada wacana pemindahan TPA ke lokasi lain. Sebab, menurut wahyu, relokasi pusat pembuangan sampah membutuhkan biaya besar dan sulit mencari lahan baru, juga adanya potensi masalah sosial yang timbul seperti penolakan warga. Selain pemindahan, solusi yang kemungkinan diambil ada lah perluasan area. Pada Mei 2021, dalam situs resminya, Pemerintah Kota Semarang menyatakan bakal memperluas area TPA guna menambah daya tampung sampah pada 2022. Namun, hingga Maret 2023 rencana penambahan kawasan buangan TPA Jatibarang belum terealisasi. Page 18 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 “Kalau untuk per luasan, sebenarnya masih bisa, ada lahan yang tersedia," ujarnya. Selaku Kepala UPTD, Wahyu mempersilakan untuk menanyakan lebih lanjut rencana perluasan tersebut kepada dinas yang menaungi UPTD TPA, yakni Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang. Saya ngnya, Kepala DLH Bambang Suranggono belum memberi jawaban. Baca juga: Bahaya Sampah Plastik di Laut dan Imbas Minimnya Hasil Nelayan Masalah Sampah di Jogja & Pentingnya Sinkronisasi antar Daerah Upaya Pengurangan Volume Sampah Pemindahan atau perluas an area TPA sejatinya tidak menyelesaikan masalah, melainkan hanya menunda. Karena produksi sampah kota setiap hari terus ada, bahkan berpotensi mengalami peningkatan seiring pertumbuhan penduduk dan kemajuan kota. Penanganan masalah sampah jangka panjan g bisa dilakukan dengan cara mengurangi produksi sampah di tingkat hulu dan mengoptimalkan pengolahan sampah di hilir. Selama ini, Pemerintah Kota Semarang sudah berupaya mendorong masyarakat mengurangi sampah. Salah satunya dengan memberlakukan larangan p enggunaan plastik sekali pakai melalui Peraturan Wali Kota Semarang Nomor 27 Tahun 2019. Sayangnya, meski sudah tiga tahun diberlakukan, baru sebagian tempat usaha yang menerapkan larangan penggunaan kantong plastik, pipet minum plastik, atau styrofoam tersebut. Peraturan ini lebih sulit diterapkan di pasar tradisional, apalagi di tingkat rumah tangga yang notabene penyumbang sampah terbesar. Strategi lain yang dilakukan pemerintah kota untuk menurunkan volume sampah yang masuk ke TPA adalah dengan membentuk kampu ng pilah sampah hingga bank sampah yang ditargetkan bisa terbentuk di seluruh kelurahan. Kota Semarang juga mengajak masyarakat mulai menjajaki program penguraian sampai organik secara mandiri menggunakan maggot atau larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF). Selama ini banyak sampah organik yang tidak dikelola sehingga dibuang ke TPA. Page 19 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 “Komposisi sampah yang masuk ke TPA didominasi sampah organik. Kalau masyarakat bisa membudidayakan maggot dengan baik, otomatis dapat mengurangi beban sampah TPA," ujar Wahyu. UPTD TPA Jatibarang sendiri memiliki tempat budidaya magot yang mampu memakan 500 kilogram sampah organik per hari. Namun, budidaya tersebut masih skala kecil karena hanya diperuntukkan sebagai wahana edukasi masyarakat. Baca juga: Bahan Ba kar Sampah Plastik: Bahaya untuk Kesehatan & Lingkungan Saat Teknologi RDF jadi Solusi Semu Penanganan Sampah Perkotaan Kegagalan Pengelolaan Sampah Dalam sejarahnya, sistem pengelolaan sampah di TPA Jatibarang telah mengalami beberapa perubahan. Intan M uning Harjanti dalam penelitiannya di Jurnal Planologi Universitas Islam Sultan Agung Semarang Volume 17 Nomor 2 Tahun 2020 menjelaskan, pengelolaan sampah di TPA Jatibarang awalnya menggunakan metode pembuangan terbuka. Namun, lanjutnya, pada 1993 - 1994 pe ngelolaan sampah di TPA ini beralih menggunakan metode controlled landfill yakni memusnahkan sampah dengan cara menimbun dan meratakan dengan tanah. Kemudian pada 1995 beralih ke metode sanitary landfill yang merupakan pengembangan metode sebelumnya. Dem i meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah di TPA Jatibarang, Pemerintah Kota Semarang menjalin kerja sama dengan PT Narpati Agung Karya Persada Lestari untuk mendirikan Pabrik Pengolahan Sampah Organik di area TPA. Kerja sama sejak 2008 itu rencananya ak an berlangsung selama 25 tahun. Namun, nyatanya tidak berjalan maksimal. Laporan Kerja Instansi Pemerintah (LKj - IP) Kota Semarang 2015 menyatakan kerja sama tersebut tidak mencapai target. Berdasarkan penelitian akademisi Universitas Diponegoro, Dwi Arini Setyawati dan Hartuti Purnaweni dalam E - Journal Undip mengungkap, PT Narp ati hanya mampu mengolah 250 - 350 ton per hari dari total keseluruhan sampah yang masuk ke TPA Jatibarang. Total bersih sampah yang terolah menjadi kompos pun lebih sedikit, hanya sekitar 150 ton. Sudah lama, Pabrik Pengolahan Sampah Organik yang terletak di area depan TPA Jatibarang tidak beroperasi. Berdasarkan pengamatan kontributor Tirto pada Kamis (2/3/2023), mesin pemilah dan pengolah sampah menjadi kompos itu terlihat mangkrak. Baca juga: Potret Transformasi Eks Lokalisasi Sunan Kuning yang Hanya Gimik Nestapa Warga Kampung Pesisir Semarang di Tengah Ancaman Rob Proyek PLTSa dan PSEL yang Muluk - Muluk Pada 2015, Pemerintah Kota Semarang berupaya memanfaatkan timbunan sampah di TPA Jatibarang untuk produksi gas metana. Bahan bakar alternatif yang d ihasilkan sempat Page 20 of 175 Plastik & Sampah: Pantauan Maret 2023 disalurkan ke rumah - rumah warga di sekitar TPA. Sayangnya, program tersebut tidak berlangsung lama. Pemerintah setempat beralih haluan, berambisi memanen gas metana dalam jumlah yang lebih besar dengan mendirikan Pembangkit Listrik Tenag a Sampah (PLTSa). Proyek ini digadang - gadang menjadi solusi untuk mengelola sampah sekaligus menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan energi. PLTSa masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Kota Semarang menjadi salah satu dari 12 daerah yang terpilih m enjalankan pilot project pengembangan PLTSa sesuai Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 yang merupakan pembaruan dari Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2016. Pembangunan PLTSa Jatibarang yang memakan dana Rp45 miliar dilakukan Oktober 2018 sampai dengan Desember 2019. Kapasitas generator gas terpasang sebesar 954 kilowatt. Pada saat proses uji coba akhir di mana pembeli listrik (PLN) meminta uji ketahanan 3 x 24 jam, PLTSa gagal memenuhi persyaratan. Pembangkit hanya berhasil beroperasi pada kapasitas 8 00 kilowatt selama 4 jam. Setelah beroperasi lebih dari empat jam, volume gas menurun. PLTSa Jatibarang akhirnya beroperasi komersial hanya pada kapasitas 200 kilowatt dari kapasitas terpasang 954 kilowatt. Penurunan ini berimplikasi pada penurunan produks i listrik dari proyeksi semula dan penurunan aliran dana kas operator. Nurhadi, dkk., dalam penelitian berjudul "Evaluasi Pemanfaatan Gas TPA Menjadi Listrik, Studi Kasus TPA Jatibarang Kota Semarang" berpendapat, perbedaan produksi gas TPA dengan hasil studi kelayakan (yang telah dilakukan sebelumnya) disebabkan oleh ketidak sesuaian timbulan sampah. Menurut Nurhadi, keberadaan ribuan ekor sapi di TPA Jatibarang yang memakan sampah organik turtut mengurangi jumlah sampah yang berdampak pada penurunan timbulan gas metana. Selain itu, pembuangan sampah tidak selalu pada zona yan g dirancang PLTSa. Masih kata Nurhadi, ketidaksesuaian pencatatan berat sampah juga berpengaruh. Sesuai penelitiannya, alat penimbangan di TPA Jatibarang tidak dipasang, pencatatan dilakukan dengan konversi dari volume angkut kendaraan dan jumlah kendara an yang masuk TPA. Berdasarkan pantauan kontributor Tirto pada Kamis (2/3/2023), tidak ada aktivitas di area PLTSa. Menurut informasi, PLTSa mangkrak sejak 2021. Sampai saat ini, Kepala DHL Kota Semarang, FX Bambang Suranggono belum memberi jawaban saat di tanya alasan mangkraknya PLTSa. Malasah PLTSa belum kelar, kini Pemerintah Kota Semarang mewacanakan membangun proyek Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) di TPA Jatibarang. Dalihnya, PLTSa hanya berguna mengurangi