Bulan Kabur Prolog : Tempat Kematianku Ureshino - cho, Kota Ureshino, Prefektur Saga. Berangkat dari Miyagi, menempuh perjalanan panjang dengan kereta dan berganti - ganti rute selama kurang lebih sepuluh jam. Aku akhirnya tiba di tujuan hari ini, Stasiun Ureshino - Onsen, dan berhasil turun dengan s elamat. Akibat duduk terlalu lama, punggung dan pinggangku menjerit seolah mau meledak rasanya. Yang paling tak tertahankan adalah perjalanan Shinkansen dari Tokyo ke Hakata. Pria di sebelahku terus - menerus memonopoli sandaran tangan di antara kami, memaksaku dudu k dalam posisi sempit selama hampir lima jam. Saat kami sama - sama turun di Hakata, aku sempat meliriknya, berniat melontarkan satu dua patah kata protes, tapi kuurungkan niat itu di detik - detik terakhir. Pria itu menarik lengan yang sedari tadi diletakkannya di sandaran ke arah dadanya, lalu menurunka n barang bawaannya dari rak hanya dengan sebelah tangan yang lain. Kalau dipikir - pikir lagi, selama perjalanan, dia selalu menggunakan tangan yang sama untuk mengambil ponsel atau minumannya. Dia bukan tidak mau mengalah, melainkan dia butuh tempat untuk m enyandarkan lengannya. Jika bahu atau lengannya sedang cedera, kurasa dia punya alasan yang bisa dimaklumi. Meski aku memahami kondisinya, bukan berarti tubuhku yang kaku ini tiba - tiba terasa lebih baik. Sambil menghibur punggungku yang sudah bertahan sejauh ini, aku berjalan menyusuri peron menuju pintu keluar. "Jauh lebih bagus dari yang kubayangkan." Bulan Kabur Sepertinya bangunan Stasiun Ureshino - Onsen ini baru dibangun pada tahun 2022. Begitu melangkahkan kaki keluar dari stasiun yang masih baru ini, gelombang panas yang ganas dan tanpa ampun langsung menerjang tubuhku. Hari ini adalah hari sebelum perayaan Obon, Selasa '12 Agustus', puncak musim panas terdahsyat tahun ini. Pantulan panas dari aspal pun begitu ekstrem sampai - sampai membuatku pusing. "Kukira aku sudah siap menghadapinya, tapi..." Sudah sebulan sejak aku kembali dari Tiongkok. Wajar saja jika aku, yang selama ini mengurung diri di Miyagi, merasa kewalahan dengan cuaca ini. Kulit leher dan lenganku yang tak tertutup kemeja terasa terbakar, keringat pun langsung bercucuran deras. Dari situ saja aku bisa merasakan level panas yang berbeda. Panasnya satu tingkat lebih menyiksa. "Kalau panasnya begini, sesaat aku hampir lupa apa tujuan perjalananku ke sini―――akh...!" Tepat setelah aku menggumamkan hal itu, rasa sakit yang berdenyut mulai menyerang bagian dalam pelipisku. Migrain. "Hanya karena pindah ke Kyushu, bukan berarti gejalanya bakal membaik, ya..." Rasa sakitnya masih bisa ditahan, tapi rasa lesu dan kelelahan yang datang sepaket dengannya tidak bisa diabaikan begitu saja. Gejala ini terus berulang sejak aku pulang. Menurut dokter, ini adalah migrain kronis yang berdampak besar pada pikiran dan konse ntrasiku. Kondisi ini mirip dengan apa yang biasa disebut Bulan Kabur brain fog. Selalu ada kabut tipis di dalam kepalaku, dan semakin aku berusaha berpikir keras, kabut itu semakin menebal. Pikiran yang dulu bisa kurangkai dalam sekejap, kini sering kali kehilangan bentuknya di tengah jalan. Aku disarankan untuk memperbaiki pola hidup dan menjalani pengobatan preventif, tapi kutolak. Sebab, aku tidak perlu lagi kembali menjadi diriku yang sehat. Alasanku repot - repot mampir ke Ureshino hanyalah untuk tempat istirahat terakhir. Tidak ada alasan khusus mengapa aku memilih tempat ini. Hanya mempertimbangkan kalau jaraknya tidak terlalu jauh dari tujuan akhirku. Lagi pula, aku pikir alangkah baiknya ji ka di saat - saat terakhir ini aku berendam di pemandian air panas dengan tenang untuk menyucikan diri. Hanya sekadar persinggahan semacam itu. "Panas sekali, sebaiknya aku bergegas..." Berdiri mematung di sini juga tidak ada gunanya. Begitu melangkah menjauh dari stasiun, mataku langsung tertuju pada sebuah monumen bertuliskan huruf - huruf estetis berbunyi 'URESHINO'. Saat kudekati, kulihat ada genangan air di sekitar huruf - huruf yang terbuat dari batu atau beton tersebut. Air itu mengalir mengelilingi tulisan tersebut. Dengan agak ragu aku mencelupkan tanganku, rasanya hangat. Kehangatan ini bukan karena cuaca musim pa nas yang pengap, melainkan fasilitas ini memang sebuah teyu atau pemandian air panas khusus untuk tangan. Apakah ini sekadar air panas biasa? Atau air dari sumber air panas alami? Hanya dengan menyentuhnya sekilas, aku tidak bisa membedakannya. Tepat saat aku meraup air itu dengan tangan Bulan Kabur untuk mencium aromanya, sakit kepala luar biasa yang tak tertandingi sebelumnya tiba - tiba menyerangku. "Ugh...!" Tanpa sadar aku mencengkeram tepi teyu dengan kedua tangan, menahan tubuhku yang hampir tumbang ke depan. Telingaku mendenging keras di saat yang bersamaan, perlahan - lahan meredam suara - suara di sekitarku. Dunia di hadapanku berkedip menyilaukan, lalu piki ranku serasa tenggelam ke dalam lautan kebisingan. Tangan dan lenganku dalam pandangan tampak kabur, berbayang, dan bergetar hebat. Tepat saat rasa mual ringan melanda, mulutku bergerak secara refleks. Aku mengembuskan napas panjang, fuuh, dan rasa tidak nyaman di tubuhku pun mulai mereda. Dua kali, tiga kali aku menarik napas dalam - dalam. Setelah mempertahankan posisi yang sama selama beberapa saat, rasanya mulai membaik. Dan perlahan - lahan, ketidaknyam anan serta rasa sakit itu surut. Serangan tadi sungguh dahsyat, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan sakit kepala yang biasa kualami. Bukan... meski sama - sama sakit kepala, sifat dan letak rasa sakitnya sangat berbeda, bisa dibilang ini sesuatu yang benar - benar lain. ............ 。 ......Sepertinya aku sudah tidak apa - apa. Aku perlahan mengangkat wajah, memastikan tak ada lagi keanehan pada kepalaku maupun bagian tubuh yang lain. "Apa - apaan yang barusan ini..." Biasanya orang akan langsung curiga mengidap penyakit parah, tapi intuisiku mengatakan kalau ini bukanlah masalah Bulan Kabur medis. Tentu saja, aku tidak punya dasar medis sama sekali. Aku hanya merasakannya saja. Tiba - tiba, pandanganku kembali tertuju pada monumen teyu tempatku bertumpu tadi. "Ejaannya... bukankah salah...?" Monumen yang menghiasi teyu ini. Saat pertama kali kulihat, tulisannya jelas - jelas 'URESHINO', tapi sekarang berubah menjadi 'URSHINO'. Ada celah kosong yang tidak wajar antara huruf R dan S, sementara huruf E - nya menghilang. Baru saja aku bertanya - tanya mengapa hanya pelat huruf E yang hilang, jawabannya langsung kutemukan. Tepat di dekat kakiku, sebuah pelat tunggal berbentuk huruf E tergeletak di tanah. Masalahnya bukan sekadar pelat itu terlepas, melainkan ada bekas patahan yang terlihat seolah - olah sengaja dipatahkan sekuat tenaga. "Keterlaluan sekali." Lagipula, sepertinya pelat ini belum lama dipatahkan. Jika ada orang lain yang menyadari kerusakannya, mereka pasti akan memungutnya meskipun tidak bisa langsung memperbaikinya. Ketika aku mengedarkan pandangan, mataku menangkap sepasang pria dan wanita as ing dengan tas punggung raksasa khas backpacker. "Apa mereka pelakunya...?" Entah sejak kapan, kedua orang berkacamata hitam besar itu telah menoleh dan menatapku dengan raut wajah yang jelas - jelas Bulan Kabur kesal. Sikap mereka begitu arogan, seolah ingin mencari ribut, dan aku merasa mereka bersiap memancing masalah denganku. Kemungkinan besar merekalah pelaku perusakan pelat ini. Tidak ada tersangka lain yang mencurigakan di sekitarku. Tapi, mendekati mereka dan menanyakan hal ini pun tidak ada gunanya. Berdebat kusir dengan orang - orang macam itu tidak akan membuat mereka langsung mengaku. Yang terpenting, memaksa mereka meminta maaf tidak akan mengembalikan monumen itu seperti semula. S aat aku menatap tajam ke arah mereka, pasangan itu tampak menggerutu — meski suaranya tak terdengar sampai ke mari — lalu mereka menghentikan taksi di dekat situ dan masuk ke dalamnya. Sebenarnya, aku bisa saja meletakkan pelat ini di area teyu agar mudah terlihat. Meski tahu itu pilihan yang lebih logis, kakiku malah melangkah memungut pelat tersebut dan kembali masuk ke stasiun. Tak lama kemudian, aku menemukan seorang petugas stasiun yang sedang berjalan di dalam. Aku menyerahkan pelat itu sambil memberitahu kalau aku menemukannya terjatuh. Setelah itu, aku kembali menyusuri jalan semula dan bergerak keluar. Meskipun petugas stas iun itu mengucapkan terima kasih, ia menatapku dengan tatapan curiga yang sangat kentara, seolah menuduh, "Jangan - jangan kau yang merusaknya?" Niat hati ingin menikmati teyu sedikit lebih lama lagi mumpung berada di sini, tapi entah mengapa aku merasa sedang diawasi. Saat aku menoleh ke belakang, kulihat petugas stasiun itu masih mengawasiku dengan saksama. Akhirnya, aku menyerah dan memutuskan u ntuk berjalan pergi. Bulan Kabur Aku melirik jadwal di halte bus, ternyata masih ada sedikit waktu sebelum bus berikutnya tiba. "Apa aku cari tempat untuk menghabiskan waktu dulu, ya..." Berpikir demikian, aku melangkahkan kaki menuju sebuah bangunan putih nan estetik yang terlihat agak jauh di sana. Ada lumayan banyak orang yang berkumpul di sana. Rupanya di dalam bangunan itu ada yang menjual es krim dan minuman. Menikmati minuman khas d aerah tentu lebih menarik daripada sekadar membeli dari mesin penjual otomatis, tapi... Di tengah keraguanku, ponsel yang kusimpan di saku samping ranselku bergetar. Nama yang tertera di layar adalah 'Nikaido Ren'. Nama yang tak asing bagiku, sayangnya dalam artian yang buruk. Orang itu meneleponku? Tidak mungkin terjadi, kecuali jika ada ses uatu yang sangat mendesak... "...Halo." Sambil tetap waspada, aku menekan tombol terima dan menyapa dengan pelan. "Maaf karena menghubungimu tiba - tiba." Terdengar permintaan maaf dari suara lembut dan tipis yang sangat kukenal. "Kagura rupanya. Tumben sekali kau memakai ponsel." "Aku sedikit memaksa Kakak untuk meminjamkan ponselnya sebentar. Aku sangat mengkhawatirkan Ryouya - san." Bulan Kabur Jawaban semacam itu yang kuterima. "Khawatir, ya. Padahal aku tidak apa - apa." "Lalu, kenapa kau pergi berlibur begitu saja tanpa pernah sekalipun menemui kami?" "Aku tahu aku salah karena pergi tanpa pamit. Ya, beberapa hari lagi aku akan kembali dan menemui kalian." "Beberapa hari... kau bersungguh - sungguh, kan?" Kapan busnya akan tiba? Tanpa sadar, aku sedang mencari - cari alasan untuk segera memutus sambungan telepon ini. "Keberadaan Ryouya - san bagi kami tidak tergantikan... kau adalah sosok yang sangat penting." "Penting? Apa itu pendapat pribadi Kagura? Atau―――" "Kau pasti sudah tahu jawabannya, kan? Kami membutuhkan kekuatanmu." "Sudah kuduga." Semuanya tersirat dari kata 'kami' yang ia ucapkan. Bukan perasaan pribadi Kagura, melainkan pihak di belakangnyalah yang membutuhkannya. Bukan... lebih tepatnya, mereka hanya ingin mengendalikan―――berjaga - jaga mengawasiku dengan ketat. "Asalkan kau tetap berada di sisi kami, itu sudah cukup." Bulan Kabur Aku tahu soal itu. Tidak melakukan apa - apa. Tidak ada apa - apa. Itulah bentuk pengabdian terbesarku. Meski sudah menyadarinya, mungkin aku hanya ingin memastikannya sekali lagi untuk yang terakhir kalinya. Aku mengukir senyum hampa di wajahku, lalu membuang pandangan ke arah mesin penjual otomatis di dekatku demi membunuh waktu. "Aku merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar suaramu. Tapi, tolong katakan pada kakek, biarkan aku sendiri dan awasi saja dalam diam selama beberapa hari ke depan." Aku menjawabnya seolah ingin melarikan diri. Jika ditanya apakah aku sudah membalas budi karena telah dibesarkan, aku tidak bisa dengan bangga menjawab 'ya'. Malahan, kurasa aku lebih sering membuat repot. Karena itu, bukan berarti aku tidak merasa bersala h. Namun――― Aku tidak lagi bisa berguna bagi mereka. Aku pergi ke Tiongkok, dan sebelum aku menyadarinya, aku telah menggenggam sebuah jawaban. Mengapa aku memutuskan hal itu? Mengapa semuanya jadi seperti ini? Setiap kali aku mencoba menghadapi dan mengingat kembali penyebabnya, otakku secara otomatis menol aknya. Kalau dipikir - pikir, ketidaknyamanan akibat migrain ini bermula ketika―――tepat saat pikiran itu melintas, kepalaku mulai berdenyut lagi. "Ehm... Ryouya - san, kau sedang sendirian sekarang, kan?" "Tidak? Pacarku sedang makan es krim di sebelahku." "Tolong hentikan lelucon yang tidak lucu itu." "Maaf... Tapi tenang saja, aku benar - benar sendirian. Percayalah." Bulan Kabur "...Begitu, ya. Baiklah, aku percaya." Sebesar apa pun kecurigaannya, ia tidak punya pilihan selain memercayai kata - kataku lewat telepon ini. "Intinya, apa pun niat aslimu, jujur saja aku senang kau masih memedulikanku seperti ini. Tapi... khusus untuk perjalanan ini, bisakah kau biarkan aku sendiri?" "Tentu, melepas penat bukanlah hal yang buruk. Ngomong - ngomong, kudengar Shimonoseki terkenal dengan ikan fugu - nya, ya." Pergi ke Shimonoseki di Yamaguchi. Itulah destinasi wisata yang kutulis di dalam surat untuk Kagura dan yang lainnya. "Sepertinya begitu. Aku berencana makan banyak - banyak sebelum pulang. Busnya sudah mau datang, kumatikan dulu, ya." "―――Tunggu dulu. Maaf jika aku terkesan ikut campur, tapi kalaupun ada yang meminta pertolongan, tolong jangan mudah terlibat atau terlalu banyak mengurusi urusan orang lain, ya? Ryouya - san itu―――" "Aku tahu." "Tidak, kau tidak tahu. Ryouya - san pada dasarnya tidak pernah tega mengabaikan orang atau eksistensi yang sedang kesulitan, dan karena itulah kau selalu berakhir dalam masalah besar. Tak peduli seberapa sering kuperingatkan, begitu aku lengah, kau pasti ak an langsung mencoba menyelamatkan seseorang." Bulan Kabur Mengenal seseorang bertahun - tahun itu merepotkan juga. Karena dia tahu betul semua sifat asliku, aku tidak bisa mencari - cari alasan. Bagi orang di seberang telepon, itu pasti terasa sangat menjengkelkan dan membuatnya serba salah. "Yah, aku akan lebih berhati - hati lagi." Kali ini, demi menenangkannya, aku memutuskan untuk menjawab patuh. "Satu lagi... maaf kalau aku terkesan mendesak, tapi izinkan aku memastikan satu hal terakhir." "Kau benar - benar gigih, ya. Apa?" "Kau tidak sedang berniat untuk mati―――kan?" Sudah kuduga. Aku sudah merasakan sebelumnya kalau pertanyaan semacam itu akan dilontarkan padaku. Sebelum aku sempat merangkai kebohongan, Kagura menyambung ucapannya. "Kepergian Ryouya - san ke Tiongkok mungkin telah mengubah takdir secara drastis. Meski Kakek tidak pernah mengatakannya secara langsung, aku rasa beliau mencemaskan hal itu." "Berlebihan. Mana mungkin begitu, kenyataannya aku pulang dengan selamat, kan." Memang benar, seandainya aku tidak pergi ke Tiongkok, mungkin saat ini aku masih berada di dekat Kagura dan yang lainnya. Dan aku pasti akan terus berjuang mati - matian mulai saat ini demi membalas budi karena telah dibesarkan. Namun, apakah pilihan itu ben ar - benar tepat, sekarang keraguan masih membekas. Bulan Kabur "Kalian terlalu banyak khawatir." "Jika kau punya masalah, kami masih bisa menjadi kekuatan bagi Ryouya - san dari sekarang―――" "Aku tidak punya masalah apa pun." Bahkan aku sendiri terkejut dengan betapa cepatnya mulutku melontarkan kata - kata bantahan barusan. Sebuah penolakan otomatis, seolah aku dipaksa mengatakannya oleh seseorang di luar kendaliku sendiri. "...Kalian ini terlalu protektif, pokoknya tak perlu cemas." Setelah hening sejenak, suara Kagura akhirnya terdengar pasrah. "Aku akan memercayaimu. Tapi, ke depannya apa pun yang terjadi, tolong jangan pernah mendekati 'Tempat Itu'." Kagura memohon agar setidaknya aku menuruti yang satu itu. "Kakek juga sudah mengoceh berulang kali soal itu, lagipula jaraknya lumayan jauh kalau dari Yamaguchi." Kataku. "...Benar juga, ya." "Kalau begitu, sampai jumpa lagi nanti. Nanti kubelikan set bubur ikan fugu sebagai oleh - oleh saat pulang." "Baik. Aku akan menantikannya." Bulan Kabur Setelah memutus sambungan, aku mematikan daya ponselku. Aku mengembuskan napas panjang, fuuh, sekadar untuk sedikit menenangkan perasaanku. "...Maafkan aku." Aku meminta maaf sendirian. Biarkan aku meminta maaf di sini karena telah berbohong. Aku sungguh - sungguh minta maaf. Aku datang ke Kyushu, ke Saga, bukan sekadar untuk menyembuhkan kelelahan sehari - hari. Aku datang ke tanah ini, ke tempat ini, untuk mengak hiri hidupku. Bukan, lebih tepatnya aku kembali. 'Tempat Itu' yang tadi disebut Kagura. ――― Itu adalah tujuan akhirku, 'Jalur Mitsuse' di Saga. Aku datang ke sini dengan tekad bulat untuk menjadikannya sebagai tempat kematianku. Di Ureshino ini, aku akan berendam air panas, menyantap nikmatnya hidangan khas setempat, lalu tidur di dalam futon yang hangat. Untuk waktu yang singkat, aku akan menghabiskan beberapa hari yang kosong sembari mengenang kembali kehidupanku yang singkat. Dan dengan begitu, hidupku akan usai. Hari terakhirku adalah 16 Agustus, hari peringatan kematian ibuku. Aku telah menetapkan hari itu. Bulan Kabur Itu artinya empat hari lagi... jalan hidupku yang menyimpang, hidup seorang Kurose Ryouya, akan menutup tirainya atas kehendakku sendiri. Bulan Kabur Bab 1: Kota yang Terasa Nostalgik Sekitar 10 menit berguncang di dalam bus yang dicat merah dengan manis. Aku turun di halte bus jalan raya nasional bernama Pintu Masuk Yuspo, tepat di seberang sebuah toko daging. Menurut sopir bus, kawasan pemandian air panas yang menjadi tempat wisata Ureshino berada tepat setelah satu belokan di depan. Aku mengangguk pelan pada sopir bus yang beranjak pergi, lalu melangkahkan kaki sesuai petunjuknya. Baru saja mulai berjalan, ubin bata merah yang tersusun rapi langsung menyambut pandanganku. Sepertinya, jalan inilah kawasan onsen tersebut. Mengingat ini adalah tempat wisata di liburan musim panas, nyatanya seluruh kawasan ini ramai oleh banyak wisatawa─── Ya, tidak bisa dibilang sepi juga, tapi tidak seramai yang kubayangkan. Di luar dugaan, tidak ada kerumunan dan suasananya tampak agak lengang. Setidaknya, tidak terlihat ada deretan toko yang berjejer rapat seperti di sekitar stasiun. Bulan Kabur "Apa tempat wisata onsen zaman sekarang kurang lebih memang seperti ini, ya?" Jika mengesampingkan tempat - tempat yang sukses dikomersialkan menjadi kawasan wisata seperti Tiga Mata Air Panas Terkenal di Jepang, pemandangan semacam ini mungkin bukanlah hal yang aneh. Lagipula, pemandangan ini memancarkan suasana khas yang sangat kental, dan itu sama sekali tidak buruk. Dengan perut yang mulai terasa sedikit lapar, aku memutuskan untuk berjalan - jalan mengelilingi kota dengan santai. Aku berbelok ke kanan menyusuri jalan ubin bata merah yang membentang, lalu kembali melangkah. Tak lama kemudian, aku melewati bagian depan sebuah hotel besar, dan menghentikan langkah sejenak di dekat papan tanda bertuliskan 'Reruntuhan Kuil Zuiko - ji'. Ketimbang kawasan onsen, 'kawasan permukiman kuno' mungkin adalah ungkapan yang lebih tepat. Tiba - tiba, pandanganku tertuju pada sebuah bendera dengan ilustrasi gelato yang dipasang oleh sebuah kedai teh di sudut depan, dan di seberang jalan, tampak enam patung Jizo kecil yang diselimuti kain merah yang disebut kesa. Di dekat keenam patung Jizo tersebut, seekor kucing putih dan kucing hitam duduk berdampingan. "Teman dekat? Atau jangan - jangan───" Bulan Kabur Seolah memahami perkataanku, di saat yang bersamaan kucing hitam itu mengarahkan mata bulatnya kepadaku dan mengeong pelan. Tepat setelahnya, si kucing putih menggaruk tubuhnya menggunakan kaki belakang sambil menyipitkan mata dengan nyaman. Melihat mereka tidak kabur meski ada manusia yang berdiri di dekatnya, terlihat jelas mereka sudah terbiasa dengan manusia. Saat aku sedang asyik memandangi kucing - kucing itu, si kucing putih tiba - tiba mengangkat pinggulnya seakan menyadari sesuatu dan langsung berlari bergegas. Apa di luar dugaan aku membuat mereka waspada? Namun, rasa bersalahku itu hanya berlangsung sesaat. Di arah larinya si kucing putih, di pertengahan gang sempit yang ubinnya telah berganti menjadi bata abu - abu, muncul sosok seorang pria. Karena ingin melihat lebih dekat, aku menyusuri gang itu mengikuti si kucing putih, dan melihat ada dua ekor ikan kecil di tangan pria tersebut. Entah ikan shishamo atau bukan, ia melemparnya pelan ke tanah untuk diberikan kepada si kucing. Pria itu tampaknya adalah seorang penjual ikan, dan si kucing putih rupanya sudah menunggu di dekat tokonya demi mengincar 'harta karun' itu. Dari gelagat pria yang tampaknya adalah pemilik toko itu dan si kucing yang sudah sama - sama terbiasa, kucing ini pasti pelanggan tetap di sana. Saat aku sedang asyik menatap si kucing putih, pandanganku dan pria penjual ikan itu bertemu sejenak. Bulan Kabur Ia menunjukkan wajah yang sedikit canggung, lalu buru - buru masuk kembali ke dalam tokonya. Kalau boleh menebak isi kepalanya, mungkin ia berpikir, "Ada orang berandalan yang sedang menatapku lekat - lekat", atau semacamnya. Begitu si kucing putih melahap habis ikan pertamanya, ia langsung mulai menyantap ikan yang kedua. Pria itu memang sudah tidak melihat ke arahku, tapi aku mengangguk pelan sebagai tanda pamit lalu memutuskan pergi dari depan toko tersebut. Seperti orang yang sedang melarikan diri, aku berbalik membelakangi toko dan kucing itu, lalu terus berjalan menuruni gang sempit yang landai tersebut. Sambil melewati sebuah toko di sebelah kiri yang memajang banyak minuman keras yang tampak menggiurkan, aku tiba di sebuah persimpangan kecil, di mana toko suvenir dan kedai makanan yang menjual es krim soft serve mulai terlihat. Suasananya tidak buruk. Sangat pas untuk menenangkan pikiran di beberapa hari terakhir ini. "Walau panas yang kelewatan ini memang tidak bisa dihindari." Perasaanku memang sedang bersemangat, tapi terik matahari dan udara yang lembap serta pengap ini benar - benar tidak bisa diabaikan. Kemeja yang menempel di kulit karena keringat ini juga terasa sangat tidak nyaman, dan aku ingin segera mengatasinya. Bulan Kabur Berlindung ke dalam toko suvenir yang ada di depan mata memang bisa jadi satu pilihan, tapi...... Aku malah menemukan papan tanda yang jauh lebih memikat perhatianku. Sebuah papan berdiri bertuliskan huruf - huruf sederhana berbunyi, 'Pemandian Siebold'. Mumpung sudah jauh - jauh datang ke Ureshino, ini adalah salah satu pemandian air panas yang ingin kumasuki sesering mungkin selama ada waktu. Daripada sekadar berteduh untuk mendinginkan keringat, lebih baik aku langsung membilasnya dengan air panas saja sekalian. *** Strategi untung - untungan dengan menyiramkan air bersuhu tinggi ke tubuh yang berkeringat deras ternyata sangat tepat. Tak perlu ditanya lagi betapa nyamannya air panas itu, rasa tidak nyaman di tubuhku kini telah sirna. Aku keluar dari Pemandian Siebold dengan diliputi dua hal: perasaan gembira yang tak terlukiskan dan sensasi melayang seolah kakiku tidak berpijak di bumi. "Dengan begini, tak ada lagi yang kutakutkan," gumamku bersemangat. Namun sesaat kemudian, gelombang panas yang ganas seketika menyapu bersih perasaan yang tengah memuncak itu.