Pertempuran Borneo: Prolog 3 1 Oktober 1940, situasi ramai di markas hari ini cukup membuat saya bersemangat. Komandan cukup diam untuk hari ini, setelah melakukan rutin kami untuk mengangkat beban, saya dan komandan, David yang juga ialah sahabat saya melanjutkan kegiatan kami dengan makan siang di ruang serbaguna. “Matthew, kamu sendiri tahu bahwa situasi di Borneo sudah sangat genting, bersiaplah jika kita mendapat panggilan dari petinggi” ucap Dav id sambil mengunya h ikan teri yang merupakan makanan kesukaannya semenjak ditugaskan di sini. Aku tidak terlalu bersemangat untuk kampanye yang akan datang, bagaimana tidak, sudah beredar rumor tentang kedatangan Jepang di Hindia Belanda, dan target pertama mereka diperkirakan akan menjadi Borneo. “ David, soal rumor pendeta - pendeta yang mengunjungi kota - kota besar untuk menyebarkan ajaran, sudah ku telusuri ” ujar saya “Lalu, apa yang sudah kamu dapati?” “Selama ini, mereka menyebarkan ajaran Kristen, namun bukan yang benar” “Bagaimana bisa? Apa yang kamu lakukan terhadap mereka” tanya David dengan wajah yang mulai kesal. “Yang bisa ku lakukan hanyalah mengusir mereka, sudah ku pastikan mereka akan kembali ke Amerika” “Syukurlah kalau begitu” wajah David mulai kembali ke semula setelah ku sampaikan kabar itu. Setelah obrolan kami yang cukup berat, ka mi pun berpisah. Semenjak hari ini adalah hari libur, kami berdua sama - sama memutuskan untuk mengunjungi keluarga kami masing - masing. Saya memutuskan untuk kembali ke kota sebelah untuk mengunjungi sepupu saya yang bekerja sebagai pekerja kantoran di kanto r pemerintah setempat. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, saya sampai di tempat sepupu saya “Van Bruk, bagaimana pekerjaan mu? ” tanya saya setelah duduk disamping sepupu saya. “Semua sudah tuntas, kalau kau bagaimana ni ?” “Belum waktunya, na mun semuanya berjalan lancar ” jawab saya Saya masih cukup takjub dengan aksen Van Bruk yang berubah drastis setelah pindah ke Hindia Belanda. “ Okelah, aku akan segera pulang ke utara , urusan kita di sini sudah selasai ” Kunjungan saya dengan sepupu saya berakhir dengan cukup cepat. Setelah urusan kami selesai, saya langsung menuju ke markas untuk menyelesaikan urusan saya yang selanjutnya. 1 November 1940, pagi - pagi buta saya dipanggil David, sesuai dugaan, kami mendapat misi untuk mencegat kapal logistik Jepang yang akan memulai kampanye Jepang di Hindia Belanda. “Sesuai dugaan, misi yang kita dapatkan yaitu untuk mencegat kapal logistik Jepang yang akan datang, kapal berhasil dicegat dan Jepang tidak akan sentuh Hindia Belanda lagi selama 5 tahu n ” ujar David dengan tegas dihadapan 100 lebih tentara. Saya berdiri dengan tenang di ujung ruangan sambil mendengarkan rencana dengan baik. Setelah orasi yang cukup tegang oleh David, kami melangsungkan pelaksanaan misi dengan persiapan. “Untuk senjata, s udah saya cek dan sesuai standar” jawab saya. “Baiklah, semua persiapa sudah matang” Percakapan saya dengan David diakhiri dengan suara mesin mobil meninggalkan markas kami. Mengikuti rencana David, konvoi kami akan pergi ke pelabuhan di ujung untuk segera menaiki kapal perang dan bergabung dengan angkatan laut. Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan, kami sampai di pelabuhan. Kami semua langsung turun untuk istirahat sejenak, namun tidak lebih dari 5 menit kami sampai, kami mendapati radio dari rekan kami di markas. “Komandan, pusat sudah mengirim informasi, jalur suplai kapal sudah berubah”sebut subordinat David dengan nada yang cukup ketakutan. “Bagaimana bisa? Pasti ada yang salah, konfirmasi lagi! ” “Bisa saya pastikan, komandan” “ Matthew, kam u pasti pernah mendengar rumor tentang spionase Jepang baru - baru ini ” David langsung menoleh ke arah saya. “Ada apa dengan itu? Mungkinkah misi kita digagalkan karena spionase? Jika iya, agen tersebut pasti mengikuti kita sampai di sini untuk mengawasi kita” “Itu sudah pasti, berjaga - jagalah, kita akan lanjut dengan misi kita” 2 November 1940, tepat jam 1 pagi, kami menaiki kapal tempur yang besar. Kru kami tepat berada pada angka 120, termasuk dengan angkatan laut. Perjalanan kami dipenuhi dengan kecema san yang tinggi, fakta tentang perubahan jalur kapal logistik Jepang sudah tersebar di seluruh ujung kapal. Merasa sudah waktunya, saya keluar dek, sekalian menghirup udara segar. Membawa radio, saya melaksanakan apa yang sudah ditugaskan ke saya pada awal nya. “... iya, sudah saya laksanakan,” saya menutup radio saya. “Matthew” saya mendengar suara langkah kaki dan suasana yang dingin tiba - tiba menjadi lebih dingin “Apa yang telah kau lakukan?” mendengar suara itu, saya menoleh dengan tatapan kosong. Tanpa berpikir apa - apa, saya mengeluarkan pistol saya dan menembak sahabat saya, David. Misi say a di H india Belanda sudah selesai, yang lainnya juga seharusnya sudah menyelesaikan tugas mereka. Selama beberapa menit, terdengar suara sunyi yang begitu menghantui . Saya pun balik ke deck, menemukan anggota angkatan laut bersama karung yang saya asumsikan berisi mayat. Setelah beberapa menit kami berbicara, kami melantarkan kapal dan segera kembali ke markas kami. Setelah misi spionase yang berlangsung selama 17 tah un, diri saya sudah terasa sangat lelah. Komandan sudah mengkonfirmasi akan kehancuran markas militer saya dulu yang menjadi tembok pe rtahanan paling depan di Borneo. Misi saya yang sangat panjang telah selesai, namun saya berpikir apa yang akan terjadi ji ka saya tidak menembak David waktu itu.