MBAH BUNGKUS OUR / ZINE STORY OF 2026 WHERE MEMORY REMAINS PEMBUKA Zine ini merupakan hasil perjalanan kami, Akhmad, Amara , dan Anisa , dalam mengenal lebih dekat Desa Wonoharjo melalui Situs Makam Mbah Bungkus. Bagi kami, situs ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga ruang yang menyimpan sejarah, kepercayaan, tradisi, dan ingatan masyarakat. Melalui zine ini, kami mencoba merekam cerita dan makna yang hidup di sekitar situs tersebut sebagai bagian dari upaya memahami serta mendokumentasikan kebudayaan masyarakat Desa Wonoharjo. Kami berharap zine ini dapat menjadi sebuah catatan kecil yang membantu menjaga cerita dan ingatan tentang Mbah Bungkus tetap hidup. MBAH BUNGKUS WONODIWIRYO Mbah Bungkus menginjaki wilayah yang kini dikenal sebagai Pangandaran yang diperkirakan berlangsung sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Riwayat tersebut berkaitan dengan kondisi wilayah pada masa ketika Tasikmalaya masih dikenal sebagai Sukapura Dalam cerita yang berkembang, terdapat wacana untuk pembukaan wilayah di kawasan pesisir selatan (pesisir kidul). Banyak upaya dilakukan dalam pembukan lahan namun nihil hasil, dibuatkan sebuah sayembara oleh Bupati Cilacap dan ditujukan kepada pihak yang mampu membuka serta mengembangkan wilayah tersebut. Pihak yang berhasil membuka wilayah akan memperoleh hak atas tanah yang dalam cerita masyarakat disebut sebagai “ sesiger semangka” yaitu sebagian wilayah akan menjadi miliknya. Orang yang pertama kali datang dalam rangka menjalankan tugas tersebut adalah Wonodikromo, yang disebut sebagai ayah dari Mbah Bungkus. Namun, Wonodikromo kemudian dianggap tidak mampu menyelesaikan pembukaan wilayah tersebut. Keahlian yang diperlukan untuk melanjutkan proses tersebut kemudian dikaitkan dengan putranya, yaitu Mbah Bungkus Wonodiwiryo. Terkisah bahwa sebelum wilayah tersebut dikenal dengan nama Pangandaran, terdapat sebuah pohon berukuran sangat besar. Pohon tersebut dipercaya menjadi tempat tinggal lelembut atau makhluk gaib. Keberadaan pohon tersebut menjadi salah satu hambatan dalam proses pembukaan wilayah karena masyarakat pada saat itu tidak mampu menebangnya. Mbah Bungkus Wonodiwiryo dipercaya sebagai sosok yang memiliki kesaktian yang dikenal sebagai tokoh penyebar ajaran Islam juga pada masa itu. Kemampuan tersebut memungkinkan dirinya untuk menebang pohon yang sebelumnya tidak dapat ditebang oleh masyarakat serta terdapat kepercayaan bahwa kawasan tersebut dihuni oleh kekuatan jahat. Mbah Bungkus menggigit bagian kayu pohon tersebut sehingga pohon akhirnya dapat ditebang oleh masyarakat, maka dari itu ia dikenal akan kekuatan giginya. Cerita yang telah menjadi jejak abadi, menjadikan tempat peristirahatan ini menjadi sebuah situs bersejarah yang perlu diabadikan dan dilestarikan. Oleh karena itu, kami membuat penulisan sebagai upaya melestarikan situs bersejarah yang ada di Wonoharjo dengan harap dapat berguna untuk masa lampau. Terciptanya penamaan Pangandaran sangat berkaitan dengan sosok Mbah Bungkus. Menurut cerita yang tersebar di masyarakat, terdapat beberapa versi mengenai asal-usul nama Pangandaran. Salah satu versi mengaitkan nama tersebut dengan pertemuan budaya antara masyarakat suku Jawa dan Sunda dalam proses pembukaan wilayah Pangandaran. Dalam versi tersebut, kata “ pangan” dipahami berasal dari bahasa Jawa yang berarti makanan, sedangkan kata “ daran” dikaitkan dengan istilah bahasa Sunda dahareun , yang juga memiliki makna makanan. Hal ini berkaitan dengan kisah pembukaan lahan yang dilakukan secara bergotong royong oleh masyarakat Jawa dan Sunda Setelah proses pembukaan lahan selesai, masyarakat kemudian berkumpul dan melakukan makan bersama. Pada saat makan bersama tersebut, masyarakat dari kedua latar belakang budaya membawa makanan masing- masing. Masyarakat Sunda menyebut makanan sebagai dahareun, sementara masyarakat Jawa menyebutnya pangan. Pertemuan kedua istilah tersebut kemudian dalam ingatan masyarakat dikaitkan dengan terbentuknya nama Pangandaran PANGANDARAN Di sisi lain, terdapat versi lain mengenai asal- usul nama Pangandaran yang menghubungkannya dengan kata “andar- andar” atau “diandarkan” , yang dalam pemaknaan masyarakat berkaitan dengan sesuatu yang diumumkan atau disebarluaskan. Versi ini berhubungan dengan cerita mengenai sayembara pembukaan wilayah pesisir selatan. Informasi mengenai sayembara tersebut dipercaya diumumkan atau disebarluaskan kepada masyarakat sehingga menarik orang-orang untuk datang dan berupaya membuka wilayah yang kemudian dikenal sebagai Pangandaran NAMA WONOHARJO MEMILIKI MAKNA YANG ERAT KAITANNYA DENGAN SEJARAH AWAL TERBENTUKNYA WILAYAH INI. KATA “WONO” BERARTI HUTAN, SEDANGKAN “HARJO” MEMILIKI MAKNA MAKMUR, SEJAHTERA, DAN TENTERAM. DENGAN DEMIKIAN, WONOHARJO DAPAT DIMAKNAI SEBAGAI WILAYAH YANG BERKEMBANG DARI KAWASAN HUTAN MENJADI TEMPAT KEHIDUPAN YANG MAKMUR DAN SEJAHTERA. PADA MASA AWAL, WILAYAH PANGANDARAN DIPERCAYA MERUPAKAN KAWASAN HUTAN BELANTARA YANG BERISIKAN POHON BESAR DAN RINDANG. KONDISI TERSEBUT MENJADIKAN WILAYAH INI BELUM MUDAH UNTUK DIHUNI OLEH MANUSIA. KEHADIRAN TOKOH YANG MEMBUKA DAN MENGOLAH KAWASAN TERSEBUT MENJADI BAGIAN PENTING DARI CERITA ASAL-USUL MASYARAKAT SETEMPAT. DARI PROSES PEMBUKAAN LAHAN, KAWASAN YANG SEBELUMNYA BERUPA HUTAN PERLAHAN BERUBAH MENJADI RUANG YANG DAPAT DIHUNI DAN DIKEMBANGKAN SEBAGAI TEMPAT BERMUKIM. WONOHARJO KUNCEN. Kuncen adalah sosok yang dipercaya untuk menjaga, merawat, dan mengelola suatu situs yang dianggap memiliki nilai sejarah, budaya, atau spiritual bagi masyarakat. Kuncen juga berperan sebagai penghubung antara situs dengan masyarakat , termasuk menyampaikan cerita, sejarah, tata cara ziarah, serta pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun. Bapak sudirman, 76 tahun Kuncen ke-5 situs makam Mbah Bungkus Keberadaan situs makam mbah bungkus menjadikan adanya tradisi yang masih terlaksana hingga saat ini yaitu berziarah. ZIARAH Kegiatan berziarah selalu identik dengan kegiatan mengunjungi makam tokoh tertentu yang dianggap berpengaruh Terdapat tokoh tokoh yang dipercayai memiliki kelebihan karena kedekatan mereka dengan Tuhan , sehingga dapat menjadi perantara antara manusia dengan Tuhan Para tokoh juga memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam di Indonesia Terdapat banyak ajaran dan ilmu agama yang disebarkan oleh para tokoh kepada masyarakat muslim Indonesia. Ziarah ke makam kemudian dijalankan dengan beberapa tujuan yang berbeda. Kegiatan ziarah dijalankan sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh dimana peziarah mengirimkan doa , membaca dzikir, dan memohonkan ampunan Tuhan untuk arwah dari makam tersebut. Selain itu, ziarah juga dilakukan untuk berdoa kepada Tuhan melalui perantara makam tersebut sehingga doa dan keinginan yang dimiliki oleh peziarah dapat dikabulkan oleh Tuhan (Rohimi, 2019). SAJEN. Sajen (atau sesajen) merupakan salah satu bentuk persembahan yang lazim ditemukan dalam berbagai upacara adat dan keagamaan di Indonesia salah satunya dalam berziarah. Secara umum, sajen dipahami sebagai rangkaian benda yang disusun dan disajikan secara simbolis dalam konteks ritual untuk menyampaikan niat baik, rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, serta permohonan keselamatan dan keberkahan. Dalam perspektif antropologi simbolik, sajen bukan sekadar tumpukan benda fisik, melainkan media komunikasi simbolik antara manusia dengan kekuatan alam semesta, dan leluhur. Melalui sajen, nilai-nilai kolektif, kearifan lokal, dan kosmologi masyarakat diwujudkan dalam bentuk material yang dapat dilihat, dihirup, dan dialami secara sensorik. Di banyak komunitas, sajen juga berfungsi memperkuat ikatan sosial, melestarikan tradisi, dan menjadi sarana pewarisan makna dari generasi ke generasi. Tradisi ziarah yang dilaksanakan oleh masyarakat menciptakan makna simbolik yang terkandung dalam persembahan untuk makam tersebut yaitu sesajen. Di dalam sajen, kembang tujuh rupa merupakan salah satu unsur penting yang dimaknai sebagai simbol keharuman doa. Keharuman bunga merepresentasikan harapan agar doa yang dipanjatkan membawa kebaikan, keselamatan, dan keberkahan dalam kehidupan. Dalam tradisi Dalam tradisi Dalam tradisi Jawa Jawa Jawa , angka tujuh , angka tujuh , angka tujuh sering dimaknai sebagai simbol sering dimaknai sebagai simbol sering dimaknai sebagai simbol kesempurnaan, sementara kata kesempurnaan, sementara kata kesempurnaan, sementara kata “pitu” “pitu” “pitu” dalam bahasa dalam bahasa dalam bahasa Jawa Jawa Jawa diasosiasikan dengan diasosiasikan dengan diasosiasikan dengan pitulungan pitulungan pitulungan (pertolongan), sehingga racikan (pertolongan), sehingga racikan (pertolongan), sehingga racikan tujuh jenis bunga mengandung nilai tujuh jenis bunga mengandung nilai tujuh jenis bunga mengandung nilai pemurnian diri dan doa pemurnian diri dan doa pemurnian diri dan doa keselamatan. Jenis bunga dipilih keselamatan. Jenis bunga dipilih keselamatan. Jenis bunga dipilih bukan hanya karena aromanya, bukan hanya karena aromanya, bukan hanya karena aromanya, tetapi juga karena nilai simbolisnya tetapi juga karena nilai simbolisnya tetapi juga karena nilai simbolisnya dalam dalam dalam penghormatan penghormatan penghormatan dan dan dan spiritualitas. spiritualitas. spiritualitas. Dalam tradisi Jawa , angka tujuh sering dimaknai sebagai simbol kesempurnaan, sementara kata “pitu” dalam bahasa Jawa diasosiasikan dengan pitulungan (pertolongan), sehingga racikan tujuh jenis bunga mengandung nilai pemurnian diri dan doa keselamatan. Jenis bunga dipilih bukan hanya karena aromanya, tetapi juga karena nilai simbolisnya dalam penghormatan dan spiritualitas. KEMBANG PITU RUPA KE MEN NYAN Unsur menyan atau kemenyan digunakan dalam sajen untuk menciptakan suasana sakral dan khusyuk saat berdoa. Aroma yang dihasilkan membantu membangun ketenangan batin dan konsentrasi spiritual Kemenyan tidak dimaknai sebagai unsur magis, melainkan sebagai sarana pendukung untuk membentuk suasana yang bersih dan penuh kekhusyukan. Secara fungsional, pembakaran kemenyan berperan sebagai pengharum ruangan, penutup bau tidak sedap, dan media yang mendukung kekhusyukan majelis doa. Dalam Islam Nusantara, penggunaan kemenyan sering dikaitkan dengan anjuran untuk menggunakan wewangian (buhur) agar malaikat senang dan suasana ibadah menjadi lebih khidmat. DUPA DUPA Dupa dimaknai sebagai wewangian dan simbol kekhusyukan ibadah, dianggap sebagai perantara doa yang diyakini dapat “naik” hingga ke langit ketujuh. Secara teoretis, Geertz sebagaimana dikutip dalam studi simbol menjelaskan bahwa simbol (termasuk dupa) memberi ide bagi seseorang; dalam praktiknya, simbol dapat berupa objek, peristiwa, atau perbuatan yang menciptakan suasana tenang Dupa dimaknai sebagai wewangian dan simbol kekhusyukan ibadah , dianggap sebagai perantara doa yang diyakini dapat “naik” hingga ke langit ketujuh. dan khusyuk (Pals, 2003). Dengan demikian, dupa berfungsi ganda: sebagai penanda ritual dan sebagai media yang secara sensorik (melalui aroma) mengarahkan peserta ritual ke keadaan batin yang sesuai dengan maksud ibadah. Meskipun pandangan masyarakat terhadap kesakralan makam beragam namun, perbedaan keyakinan tersebut tidak mengurangi keterlibatan sosial mereka. Masyarakat yang tidak mempercayai aspek spiritual makam tetap berpartisipasi melalui gotong royong, menyumbangkan makanan, maupun membantu pelaksanaan acara. Secara antropologis, hal ini menunjukkan bahwa situs makam berfungsi sebagai ruang integrasi sosial. Kepercayaan boleh berbeda, tetapi masyarakat tetap dipersatukan oleh nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian terhadap warisan budaya lokal. Situs Makam Mbah Bungkus tidak hanya menjadi tempat yang berkaitan dengan sejarah dan kepercayaan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang sosial dan budaya. Salah satu kegiatan yang rutin dikaitkan dengan situs ini adalah peringatan Muharam atau Suro, yang menjadi momentum masyarakat untuk berkumpul dan melaksanakan kegiatan bersama. NGARUWAT BUDAYA PENELITI PRAYER Penyusunan dan pendokumentasian sejarah Situs Makam Mbah Bungkus tidak terlepas dari dukungan, bantuan, dan kontribusi berbagai pihak. Kami selaku peneliti yaitu Akmad, Amara, Anisa menyampaikan terima kasih kepada Bapak Raka selaku Dosen Pembimbing Lapangan, serta seluruh Kelompok 8 KKN Internasional atas kerja sama dan dedikasinya selama proses kegiatan. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Tim Publikasi dan Dokumentasi: Robby, Alya, dan Shina, yang telah membantu mengabadikan setiap momen mengenai situs ini, serta apresiasi kepada Vaza selaku tim artistik Apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Sudirman selaku kuncen Situs Makam Mbah Bungkus atas pengetahuan, cerita, dan pendampingan yang diberikan. Terima kasih kepada Pemerintah Desa Wonoharjo, seluruh warga Desa Wonoharjo, serta masyarakat Pangandaran yang telah menerima, mendukung, dan berbagi cerita dalam proses pengenalan warisan sejarah dan budaya ini. Semoga upaya sederhana ini dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk mengenal, menghargai, dan menjaga Situs Makam Mbah Bungkus sebagai warisan sejarah dan identitas budaya masyarakat Wonoharjo dan Pangandaran. Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita ini. PENUTUP CREATED BY KKN INTERNATIONAL 2026. SEBUAH TEMPAT MUNGKIN HANYA MENYIMPAN JEJAK. NAMUN, INGATAN MANUSIALAH YANG MEMBUATNYA TETAP HIDUP. DI SEBUAH RUANG YANG SEDERHANA, TERSIMPAN LEBIH DARI SEKADAR MAKAM. ADA CERITA YANG DIWARISKAN, DOA YANG DIPANJATKAN, BUNGA YANG DITABURKAN, DAN INGATAN YANG TERUS DIJAGA.